Jumat, 23 Maret 2012

GUNUNG KELUD KEDIRI












Gunung Kelud merupakan gunungapi strato andesitik yang tergolong masih aktif, terletak di Jawa Timur . Letusan 1586 merupakan letusan yang paling banyak menimbulkan korban jiwa yaitu sebanyak 10.000 orang meninggal. Selama  abad 20 telah terjadi 5 kali letusan masing masing pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966 dan 1990 dengan jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 5400 jiwa.
Letusan  tahun 1901
Letusan Gunung Kelud terjadi pada tengah malam antara tanggal 22 dan 23 Mei 1901. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 00.00 – 01.00. Selama dua jam aktivitas erupsi semakin meningkat dan pada pukul 03.00 letusan utama terjadi. Asap letusan pekat membumbung dari kawah Kelud, kemudian hujan lapilli mulai terjadi di sekitar Kelud. Segera setelah lapilli jatuh, diikuti dengan debu basah dan lumpur. Kejadian selanjutnya berupa hujan abu panas. Di Kediri abu panas mulai turun sekitar pukul 03.30 dan bau belerang tercium di segala tempat. Letusan terdengar sampai jarak jauh bahkan sampai di Pekalongan. Distribusi hujan abu sampai mencapai Sukabumi dan Bogor.
Letusan Mei 1901 ini terjadi setelah selang waktu sekitar 37 tahun masa tenang yaitu sejak letusan tahun 1864. Letusan ini terjadi masih berada di dalam kawah Kelut dan tidak mengakibatkan hancurnya dinding kawah. Informasi yang diperoleh menjelang letusan bahwa sekitar 12 hari sebelum letusan terlihat air danau kawah Kelut mendidih. Zona pendidihan tersebut membentuk lingkaran besar di permukaan danau kawah. Pada saat letusan sebagian air danau kawah terlemparkan. Diperkirakan terdapat volume air danau kawah sekitar 38 juta meter kubik sebelum letusan. Material padat yang dilemparkan gunung Kelut selama letusan kira- kira 200 juta meter kubik. Korban jiwa cukup banyak namun informasi tentang jumlahnya tidak jelas.
Pada tanggal 11 Juli 1907 dilakukan penggalian di lereng barat untuk mengurangi volume air danau kawah, namun demikian air danau kawah hanya berkurang setinggi 7,4 meter atau pengurangan volume sebesar 4,3 juta meter kubik.
Letusan tahun 1919
Letusan tahun 1919 merupakan bencana terbesar yang dihasilkan oleh aktivitas gunung Kelut pada abad ke 20, yang mengakibatkan sekitar 5160 orang meninggal. Letusan terjadi pada  tengah malam antara tanggal 19 dan 20 Mei 1919 yang ditandai dengan suara dentuman amat keras bahkan terdengar sampai di Kalimantan. Sekitar pukul 01.15, terdengar suara gemuruh yang sangat keras dari arah gunung Kelut . Diperkirakan pada saat itulah terjadi letusan utama. Beberapa saat kemudian hujan abu mulai turun. Selain hujan abu, di daerah perkebunan di lereng Kelut terjadi hujan batu dan kerikil. Di Darungan hujan batu cukup hebat sehingga sebagian besar atap rumah hancur.
Hujan  abu menyebar akibat tiupan angin terutama ke arah timur. Di Bali hujan abu terjadi pada tanggal 21 Mei 1919. Dari perhitungan endapan abu dapat ditaksir bahwa sekitar 284 juta meter kubik abu terlemparkan, jumlah ini setara dengan sekitar  100 juta meter kubik3 batuan andesit. Secara keseluruhan diperkirakan 190 juta meter kubik material telah keluar dari perut gunung Kelud.
Bencana letusan Gunung Kelud itu sendiri berasal dari kejadian lahar panas yang menyertainya. Sebelum letusan, volume air danau kawah mencapai 40 juta meter kubik, air sejumlah itu terlempar keluar kawah pada saat letusan. Lahar yang terbentuk merupakan lahar primer yang terjadi secara langsung oleh air danau kawah yang tertumpahkan pada saat letusan . Sekitar pukul 01.30 aliran lahar yang merupakan campuran dari air panas, lumpur, pasir, batu- batuan memasuki kota Blitar menciptakan kehancuran yang hebat. Kecepatan lahar yang mengalir di kota Blitar sekitar 18 m/detik atau sekitar 65 km/jam. Jarak maksimum aliran lahar primer mencapai 37,5 km (dihitung dari puncak Kelut). Letusan 1919 ini mengakibatkan 104 desa rusak berat, kerusakan sawah,tegal,pekarangan dan perkebunan kopi,tebu dan ketela mencapai 20.200 bau (5050 hektar) dan korban binatang sebanyak 1571 ekor.
Bencana letusan 1919 memberikan pelajaran bagi pemerintah saat itu untuk mengurangi volume air yang ada di danau kawah. Dari pengamatan yang dilakukan antara tahun 1901 sampai 1905, diperkirakan air yang masuk ke danau kawah mencapai rata- rata 6,5 juta meter kubik3 per tahun. Air yang cukup  banyak yang selalu menjadi jaminan bahwa kawah Kelut akan selalu menjadi danau itu harus dikeluarkan sehingga volume air akan terjaga pada volume yang tetap kecil. Mulai tahun 1920 dibangun terowongan pembuangan air dengan panjang sekitar 980 meter dan garis tengah 2 meter. Terowongan tersebut di buat mulai dari kawah menuju barat untuk mengalirkan air danau kawah ke Kali Badak, namun demikian kecelakaan yang disebabkan oleh runtuhnya dinding kawah menyebabkan pekerjaan pembuatan terowongan dihentikan pada tahun 1923. Pekerjaan kontruksi terowongan akhirnya selesai tahun 1924. Dengan adanya terowongan tersebut, ketinggian air dapat dikurangi sebesar 134,5 m dengan volume tersisa hanya sebesar 1,8 juta meter kubik.
Letusan tahun 1951
Dua kali gempa terasa terjadi sekitar 3 minggu sebelum letusan. Letusan terjadi pada tanggal 31 Agustus 1951. Pukul 06.15 terlihat asap tebal berwarna putih keluar dari puncak Kelut. Makin lama makin besar dan disertai dengan suara gemuruh. Beberapa saat kemudian, sekitar pukul 06.30, terdengar suara letusan. Sesaat terlihat asap tebal kehitaman membumbung dari kawah Kelut condong ke selatan. Sekitar 4 suara dentuman terdengar dari Wlingi. Tiga puluh menit kemudian di Margomulyo terjadi hujan batu sebesar buah mangga dan abu. Pandangan mata hanya dapat mencapai 3 – 4 meter. Informasi dari Candisewu menyebutkan hujan batu yang berlangsung sekitar 1 jam, disamping itu juga terasa gempa sebanyak 2 kali. Abu tercatat turun sampai di Bandung. Pengamatan menyebutkan bahwa pada saat letusan terjadi angin kencang ke arah barat. Diperkirakan sekitar 200 juta meter kubik material dilontarkan selama letusan.
Sebab terowongan telah dibangun maka volume air danau kawah sebelum letusan hanya sekitar 1,8 juta meter kubik. Pada saat letusan, air tersebut sebagian besar diuapkan dan tidak mengalir sebagai lahar primer besar. Kejadian lahar besar sebagaimana pada letusan 1919  tidak terjadi. Lahar kecil hanya mencapai jarak maksimal sekitar 12 km jauh lebih kecil dari lahar primer 1919 yang mencapai jarak maksimal sekitar 37 km. Terdapat korban letusan sebanyak 7 orang meninggal, tiga diantaranya adalah pegawai Dinas Vulkanologi yang bertugas yaitu Suwarnaatmadja, Diman dan Napan. Sedangkan yang luka-luka sebanyak 157 orang. Sekitar 320 hektar areal perkebunan dan kehutanan rusak.
Gejala menjelang letusan telah diamati sebelumnya yaitu suhu air kawah naik dari sekitar 28°C pada bulan Pebruari 1951 menjadi sekitar 40,8°C pada bulan Agustus 1951. Kenaikan suhu air tersebut berlanagsung dalam dua tahaap secara perlahan dari bulan Pebruari ke pertengahan Agustus (dari 28°C – menjadi 38,5°C) namun terjadi kenaikan suhu air yang cepat mulai tanggal 19 Agustus 1951 dan mencapai 40,8°C pada tanggal 24 Agustus, sekitar seminggu sebelum letusan. Pada keadaan suhu maksimal tersebut warna air danau mulai berubah dari hijau tua ke hijau muda kekuningan. Gelembung dan bualan bertambah banyak dan semakin melebar. Penurunan suhu air tercatat pada tanggal 26 Agustus. Diperkirakan, karena tidak ada data sesudahnya sampai kejadian letusan terjadi penurunan secara pelan-pelan sejak tanggal 25 Agustus.
Letusan tahun 1966
Sesudah letusan tahun 1951, dasar kawah baru lebih rendah 79 meter dari pada dasar kawah sebelumnya. Penurunan dasar kawah ini menyebabkan volume air danau mencapai sekitar 21,6 juta meter kubik sebelum letusan 1966. Volume ini jauh lebih besar dari volume air sebelum letusan 1951 yang hanya 1,8 juta meter 3.
Letusan terjadi pada tanggal 26 April 1966 pukul 20.15 yang menyebabkan terjadinya lahar pada alur K.Badak, K.Putih, K.Ngobo, K.Konto, dan K.Semut. Korban manusia berjumlah 210 orang di daerah Jatilengger dan Atas Kedawung. Letusan ini menghasilkan tephra sekitar 90 juta meter 3.
Seismograf yang berada di Pos Margomulyo mencatat gempa pada 15 menit menjelang letusan. Warna air danau menjelang letusan juga berubah, dimana sebulan sebelum letusan air yang semula berwarna hijau tua berubah menjadi hijau kekuningan dan perubahan tersebut merata di seluruh permukaan kawah. Dua hari menjelang letusan teramati bahwa warna air berubah kembali seperti semula. Perkembangan perubahan suhu air kawah tidak teramati demikian pula tumbuhan di sekitar mulut kawah tetap segar saat menjelang letusan.
Letusan tahun 1990
Letusan terjadi pada tanggal 10 Februari 1990, letusan ini merupakan kejadian letusan G.Kelut yang dipantau dengan seksama oleh Direktorat Vulkanologi yang tergabung dalam suatu tim khusus yang disebut sebagai Tim Vulkanik G.Kelut. Pemantauan yang dilakukan menggunakan berbagai metoda yaitu seismik, pengukuran suhu, geolistrik potensial diri, dan pemantauan visual EDM dan Tiltmeter.
Volume air danau yang hannya sekitar 1,8 juta meter kubik merupakan faktor yang membuat tidak terjadinya lahar panas pada letusan kali ini. Sebagaimana pada letusan 1951 volume air yang kecil tersebut teruapkan ketika terjadi letusan. Letusan terjadi secara beruntun mulai pukul 11.41 sampai 12.21 wib.
Tahap awal dari letusan merupakan fase freatomagmatik yang mengakibatkan sebaran abu tipis di sekitar puncak, sedangkan letusan berikutnya lebih besar dengan lemparan pasir, lapilli, dan batu yang tersebar pada radius 3,5 km 2   . Jarak jangkau 1,5 km ke arah timur dan sekitar 5 km ke arah barat, barat laut dan barat daya. Letusan utamanya berupa letusan plinian dengan awanpanas menyusuri lembah di baratdaya sejauh 5 km dari kawah. Letusan tersebut berintensitas sedang dengan tephra sekitar 130 juta meter 3.
Daerah yang rusak tidak terlalu luas, hanya dalam jangkauan radius sekitar 2 km dari kawah, namun demikian sebaran abu letusan jauh lebih luas dan diperkirakan mencapai luasan sekitar 1700 km 2. Kerusakan rumah penduduk dan fasilitas publik pada umumnya disebabkan oleh hujan abu tersebut. Sekitar 500 rumah dan 50 gedung sekolah rusak, kerusakan terjadi dalam isopach 10 cm yaitu pada jarak maksimum sekitar 15 km dari puncak, korban manusia tercatat 32 orang.
Gejala menjelang letusan teramati pada bulan November 1989 yaitu adanya peningkatan suhu air danau kawah dari sekitar 31 - 34° C menjadi sekitar 35° C. Suhu permukaan air danau kawah ini secara rata- rata mengalami peningkatan terus sampai saat terjadinya letusan, bahkan sampai sekitar 41° C menjelang letusan. Warna air danau kawah berubah dari hijau muda jernih menjadi hijau muda agak putih. Tingkat keasamaan air danau meningkat dari pH sekitar 5,5 – 6 pada bulan Oktober 1989 berangsur semakin asam sampai mencapai pH 4,2 pada bulan Januari 1990.
Peningkatan aktivitas seismik mulai terlihat pada tanggal 9 November 1989, yang ditandai dengan kenaikan jumlah Gempa Vulkanik yang biasanya kurang dari satu kejadian perhari menjadi 9 kejadian Gempa Vulkanik perhari pada tanggal 9 November 1989. Kemudian pada tanggal 20 November 1989 gempa vulkanik bahkan tercatat sebanyak 40 kali. Jumlah gempa harian kemudian mengalami penurunan dari tanggal 22 November sampai minggu pertama Januari 1990. Secara rata- rata penurunan tersebut terjadi dari  sekitar 12 gempa per hari pada sekitar tanggal 27 November 1989 sampai hanya sekitar 1-2 gempa per hari pada awal Januari. Penurunan kejadian gempa ini diakhiri dengan munculnya tremor antara tanggal 3 – 9 Januari 1990. Kejadian tremor ini yang mengakhiri kecenderungan penurunan dan juga menjadi awal peningkatan secara mencolok aktivitas kegempaannya. Dari tanggal 14 januari sampai 21 januari merupakan episode dimana aktivitas gempa vulkanik cukup intensif.
Tanggal 22 Januari sampai 8 Februari merupakan periode tenang. Gempa vulkanik tidak lebih dari 5 gempa  per hari. Pada periode ini terjadi peningkatan derau akustik di dalam danau kawah . Intensitas derau meningkat sekitar 4 kali lipat dari rata- rata ambang sebelumnya.
Kejadian letusan diawali dengan munculnya swarm gempa vulkanik pada tanggal 9 Februari pada pukul 12.17 wib. Secara cepat gempa meningkat dan pada tanggal 10 Februari muncul tremor vulkanik pada pukul 09.32 dengan amplitudo yang semakin membesar dan berlanjut pada kejadian letusan.
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status “awas” (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelut kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.
Akibat aktivitas tinggi tersebut terjdi gejala unik yang baru terjadi dalam sejarah Kelut dengan munculnya asap putih dari tengah danau diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus “tumbuh” hingga berukuran selebar 100m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi “siaga” (tingkat 3).

Erupsi gunung kelud

Aktivitas letusan umumnya dimulai dengan suatu ledakan freatik yang diikuti oleh suatu letusan plinian pendek/singkat dengan kolom kerucut terbalik yang mencapai ketinggian dari lebih dari 10 km. Letusan ini yang memproduksi lahar yang merusak, serta letusan piroklastik yang memproduksi abu vulkanik (lihat gambar 1 dan 2).

Sebaran abu vulkanik pada letusan 1901 dan 1919 dari gunung api Kelud. Diadaptasikan Dari Kemmerling ( 1921). Pada letusan 1919, abu vulkanik terbagi dua. Awan abu yang berketinggian lebih rendah tersebar ke timur sampai sejauh Bali dan awan abu yang lebih tinggi tersebar ke Barat.

Sebaran abu vulkanik dari letusan 1990 (Bourdier et al., 1997). Abu ini menghancurkan lebih dari 500 rumah. atap yang runtuh adalah penyebab utama kematian (total 32 orang) pada letusan ini. ( GVN Bull. 1990, Bourdier et al. 1997).
Lahar primer (lahar setelah letusan) sangat sering terjadi pada Kelud dan diproduksi oleh ledakan yang hebat dari perairan dari danau kawah/kepundan. Tetapi Kelud juga cenderung menghasilkan lahar sekunder (i.e. tidak secara langsung berhubungan dengan suatu letusan) karena lereng gunung mudah tergerus oleh hujan yang melimpah dan oleh karena kehadiran dari material pyroclastic yang melimpah dan lepas ( Thouret et al, 1998). Area yang paling terekspos adalah lereng barat ( lahar Gedok) dan barat daya ( lahar Badak) karena dinding kepundan yang lebih rendah di sisi barat. Lahar primer sangat merusak dan mengakibatkan sebagian besar kematian  sampai volume dari danau dikurangi oleh suatu sistem drainase.
Sebelum 1875, volume dari perairan danau mencapai sekitar 78 juta m3. Tahun 1875, suatu bencana yang tidak berhubungan dengan aktivitas vulkanis terjadi. Hujan lebat menjebol lubang kepundan mengakibatkan air danau tumpah ke lereng barat daya menghasilkan lahar sepanjang  13 km yang merusak wilayah Srengat. Setelah bencana ini, volume dari danau dikurangi menjadi 40 juta m3.
Pada tahun 1905, suatu tanggul dibangun oleh administrasi lokal Belanda sepanjang sungai Badak untuk mengalihkan lahars ke kota Blitar. Ketika letusan yang berikutnya terjadi, tanggul ini terbukti tidak efektip dengan dihanyutkan oleh lahar letusan 1919. Lahar 1919 yang menempuh perjalanan sejauh 38 kilometer kurang dari suatu jam dan menghancurkan suatu wilayah lebih dari 15,000 hektar, membinasakan ratusan kampung dan membunuh 5160 orang. Letusan yang dramatis pada bulan Mei 1919 ini mendasari Survey Vulkanologi untuk memutuskan tugas yang pertama untuk mengalirkan air danau kawah melalui suatu terowongan.
Pekerjaan engineering dimulai pada September 1919 dan perlu beberapa tahun untuk diselesaikan. Rencana awal adalah menggali suatu terowongan sepanjang 955m. Ketika pekerjaan dimulai, danau kawah masih kering dan penggalian terowongan dimulai dari kedua sisi dari dinding kawah (Bemmelen van, 1949). Oleh karena temperatur yang tinggi yang di area kerja penggalian (46°C), terowongan waktu itu belum diselesaikan di 1923. Pada waktu itu danau kawah telah separuh penuh (22 juta m3). Suatu banjir lumpur dan kerikil yang mendadak memenuhi terowongan membunuh lima pekerja, sehingga pekerjaan dihentikan. Rencana baru diputuskan untuk menurunkan level danau secara progresif dengan pengeboran 7 terowongan paralel dan menggunakan suatu pipa sifon untuk mengalirkan air danau. Pekerjaan ini akhirnya diselesaikan th 1926 dan sukses menurunkan volume danau sampai kurang dari 2 juta m3. Kelud mungkin merupakan salah satu yang pertama dan contoh yang paling ambisius dari suatu pekerjaan rancang-bangun yang dibuat di suatu gunung api untuk mengurangi ancaman dari suatu danau kawah.
Gambar potongan pekerjaan terowongan awal
Letusan 1951 menghasilkan kerusakan kecil. Jika dibandingkan dengan bencana 1919, lahar menempuh jarak maksimum 6.5 km. Tetapi, letusan ini memperdalam dan memperlebar lubang kawah sehingga ketika letusan 1966 terjadi, volume dari air di danau kawah yang telah naik ke lebih dari 23 juta m3.
Setelah letusan 1966, suatu terowongan yang baru dibangun 45 m di bawah lubang yang paling rendah terdahulu dan volume dari air danau berkurang lagi menjadi 2.5 juta m3. Beberapa dam dan sabuk juga dibangun pada lereng gunung untuk mengurangi penyebaran lahar.
Tidak ada lahar primer diproduksi oleh letusan plinian 1990 tetapi sedikitnya terjadi 33 lahar setelah letusan sampai sejauh 24 km dari kawah ( Thouret et al, 1998).
Variasi kontur kawah Kelud

Keindahan dan kebudayaan pada gunung kelud



Gunung Kelud menurut legendanya bukan berasal dari gundukan tanah meninggi secara alami. Seperti Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat,Gunung Kelud terbentuk dari sebuah
pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti mahesa Suro dan Lembu Suro. Kala itu, Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan
kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.Untuk menolak lamaran tersebut,Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.
Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja
semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu
bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke
dalam sumur. Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro. Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. ÓYoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung.
(Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar
akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau. Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung
kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut Larung Sesaji.
sebagai salah satu warga dari desa wisata tersebut, saya  ingin mengenalkan Keindahan Kelud yang merupakan tanah tumpah darah saya. Karena disinilah saya dilahirkan, kemudian tumbuh, menjalani hari-hari sebagai anak desa, sebagai anak petani, tapi justru disinilah surga dunia buat saya, semoga pembaca bisa merasakan hal yang sama.
berikut beberapa kebudayaan yang tersimpan pada gunung kelud :

Nyadran, adalah sebuah tradisi yang masih di pertahankan oleh masyarakat Desa Sugihwaras Yang umumnya adalah masyarakat kelud, yang masih mempercayai adanya danyang Desa , sehingga setiap masyarakat akan mengadakan hajat (Mantu,khitanan,panen melimpah) atau punya nadar masyarakat kelud mengadakan nyadaran ke danyang Desa, ada dua tempat yang ada di desa Sugihwaras sebagai tempat nyadaran yaitu, Danyangan Mbah Sumber, Danyangan Mbah Ringin.

Ritual Sesaji Gunung Kelud merupakan tradisi tahunan masayarakat kelud terutama masyakat Desa Sugihwaras Sebagai tuan rumah dan masyarakat Lima Desa Yang ada di seputaran gunung kelud yaitu masyarakat Desa , Babadan, Pandantoyo, Sempu, dan Ngancar, ritual sesaji gunung kelud di selenggarakan setiap bulan suro (Penganggalan jawa) Tujuan dari acara ini adalah ungkapan rasa sukur masyarakat kelud kepada tuhan yang maha Esa , yang telah memberikan keselamatan dan anugerah berupa alam yang subur gemah ripah loh jinawi kepada masyarakat kelud. Acara yang di selenggarakan setiap satu tahun ini selalu rame di kunjungi wisatawan, karena di dalam acara ritual sesaji Gunung kelud , ada banyak pementasan kesenian tradisional.
beberapa tempat yang saya sarankan untuk jgn di lewatkan jika berkunjung ke gunung kelud :

goa belanda                                   Gunung/ Tebing Sumbing                          anak gunung kelud

pemandian air panas
di wisata anak gunung kelud kita akan di sambut dengan iringan lgu gamelan dan kuda lumping yang di mainkan oleh warga-warga sekitar.
gambar di samping para wisatawan yang mencoba bermain gamelan, orang luar aj mau bermain gamelan masa kita orang indonesia ogah-ogahan sih??? nanti di rbut lgi lohhhhhh??? hehehehe (^_^).
ada kuda lumping juga lohhh…!!! tapi saya saranin jgn terlalu dekat yah …. bahaya ada pengalaman buruk saya yang di kejar-kejar kuda lumping hehhehe jadi curhat…. kita lnjut lgi perjalanan kita tentang gunung kelud, selain pariwisatanya di gunung kelud juga banyak kebun nanas, alpukat, dan durian dll…

dan ada makanan ciri khasnya juga lohhh, Pecel Tumpang, nasi jagung,nasi Tiwul (Terbuat dari ketela) Lodho ayam, sate kambing, dan kopi khas masyarakat kelud yaitu kopi lanang, disamping makanan ada juga oleh-oleh yang bisa dinikmati langsung atau bisa di bawa pulang oleh wisatawan yaitu, Kripik gothe, kripik pisang agung,kripik ketela, pisang keju, kopi bubuk.


okeeee sekiannn duluuu kujungan kita ke gunung kelud semoga pngalaman sya bisa bermanfaat bagi anda.. kalo untuk keluarga saya jaminnn sangattt cocok.. kalo anda taku nyasar anda juga bisa menyewa guide pariwisata… maksihhh semuanya smoga bermanfaattt (^_~)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar